Home

/

100+ Soal Tes Rekrutmen ASDP Indonesia Ferry + Kisi-kisi dan Pembahasan

100+ Soal Tes Rekrutmen ASDP Indonesia Ferry + Kisi-kisi dan Pembahasan

100+ Soal Tes Rekrutmen ASDP Indonesia Ferry + Kisi-kisi dan Pembahasan

Pelaksanaan rekrutmen pegawai di PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dirancang melalui rangkaian seleksi yang objektif dan berstandar tinggi guna memperoleh kandidat yang memiliki kecakapan berpikir kritis, ketelitian analisis, serta kesiapan menghadapi kompleksitas layanan transportasi penyeberangan. Pada tahap tes tertulis rekrutmen ASDP Indonesia Ferry berfungsi sebagai alat evaluasi utama untuk menilai kemampuan penalaran, pemahaman konseptual, dan kesiapan peserta dalam menjawab tuntutan kerja di lingkungan BUMN.

Artikel ini menyajikan ulasan menyeluruh mengenai struktur materi ujian tertulis yang digunakan dalam proses seleksi, disertai kumpulan soal tes rekrutmen ASDP Indonesia Ferry, kisi-kisi materi, serta pembahasan yang disusun secara runtut dan aplikatif. Mengingat peran strategis ASDP Indonesia Ferry dalam mendukung konektivitas wilayah dan sistem transportasi nasional, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai integritas, tanggung jawab, profesionalisme, serta pengamalan nilai-nilai AKHLAK sebagai pedoman kerja BUMN.

Kisi-Kisi Soal Tes Rekrutmen ASDP Indonesia Ferry

Kisi-Kisi Soal Tes Rekrutmen ASDP Indonesia Ferry

Sebagai tahapan lanjutan dalam proses persiapan seleksi, pemahaman terhadap kisi-kisi materi menjadi pondasi penting untuk mengenali pola dan ruang lingkup soal tes rekrutmen ASDP Indonesia Ferry. Dengan berpedoman pada kisi-kisi yang disusun secara sistematis, peserta dapat mengarahkan fokus belajar pada kompetensi yang benar-benar dinilai, sehingga waktu dan energi yang dikeluarkan menjadi lebih efektif dan terukur.

1. Kemampuan Numerik dan Analisis Operasional

Mengukur kemampuan berhitung dan menganalisis angka yang berkaitan dengan kapasitas penumpang, jumlah kendaraan, persentase muatan, perhitungan waktu tempuh, serta data operasional sederhana dalam konteks transportasi penyeberangan.

2. Penalaran Logis dan Pengambilan Keputusan

Menilai kemampuan berpikir runtut dan logis dalam menghadapi permasalahan kerja, termasuk menarik kesimpulan, menentukan prioritas tindakan, dan memilih solusi paling rasional berdasarkan informasi yang tersedia.

3. Pemahaman Bacaan dan Instruksi Kerja

Menguji kemampuan memahami teks prosedural, pengumuman operasional, atau instruksi tertulis yang berkaitan dengan layanan penumpang, keselamatan, dan koordinasi kerja di lingkungan pelabuhan maupun kapal.

4. Penalaran Verbal dan Ketepatan Bahasa

Mengukur kemampuan memahami makna kata, hubungan antar konsep, serta ketepatan penggunaan bahasa dalam konteks profesional melalui soal sinonim, antonim, analogi, dan pemahaman pernyataan.

5. Core Values BUMN dan Etika Kerja

Menilai pemahaman dan penerapan nilai-nilai kerja BUMN seperti amanah, profesionalisme, kerja sama tim, tanggung jawab, dan integritas melalui soal berbasis situasi kerja nyata.

6. Pelayanan Publik dan Customer Handling

Menguji kemampuan melayani pengguna jasa secara profesional, termasuk menghadapi keluhan penumpang, komunikasi efektif, empati, serta pengambilan keputusan yang tetap mengutamakan keselamatan dan kenyamanan.

7. Keselamatan Pelayaran dan K3 Maritim

Mengukur pemahaman dasar terkait keselamatan pelayaran, prosedur keadaan darurat, penggunaan alat keselamatan, serta prinsip keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kapal dan pelabuhan.

8. Pengetahuan Dasar Operasional Pelabuhan dan Penyeberangan

Menilai pemahaman tentang alur layanan penyeberangan, proses naik turun penumpang dan kendaraan, pengelolaan jadwal kapal, serta koordinasi operasional antar unit kerja.

9. Regulasi dan Kepatuhan di Bidang Transportasi Laut

Menguji pemahaman dasar terhadap aturan dan kewajiban operasional perusahaan pelayaran, termasuk tanggung jawab keselamatan, kepatuhan prosedur, dan konsekuensi pelanggaran dalam kegiatan transportasi laut.

10. Problem Solving Berbasis Skenario Kerja

Mengukur kemampuan menyelesaikan masalah kompleks melalui studi kasus operasional, seperti gangguan jadwal, kondisi cuaca, kepadatan penumpang, atau kendala teknis, dengan menilai ketepatan analisis dan keputusan.

Contoh Soal Tes Rekrutmen ASDP Indonesia Ferry

Contoh Soal Tes Rekrutmen ASDP Indonesia Ferry

Melalui latihan soal tes rekrutmen ASDP Indonesia Ferry secara berkelanjutan, peserta diharapkan dapat mengasah akurasi dalam menjawab soal, menyesuaikan strategi pengerjaan dengan batas waktu yang tersedia, serta memperkuat kesiapan diri sebelum mengikuti proses seleksi yang sesungguhnya.

Soal No. 1
Sebuah kapal penyeberangan ASDP memiliki kapasitas maksimal 320 penumpang dan 90 unit kendaraan campuran. Pada satu jadwal keberangkatan, tercatat 256 penumpang dan 72 kendaraan telah berada di atas kapal. Berdasarkan data historis, rata-rata keterisian optimal yang disarankan demi keselamatan dan efisiensi operasional adalah 85% dari kapasitas total. Namun, pada saat yang sama terdapat tambahan calon penumpang pejalan kaki yang mendesak untuk ikut karena cuaca buruk di pelabuhan. Jika setiap penambahan 10 penumpang pejalan kaki diasumsikan setara dengan 2% beban operasional, keputusan manakah yang paling rasional untuk menjaga keseimbangan antara keselamatan dan pelayanan publik?

A. Mengizinkan seluruh tambahan penumpang karena masih di bawah kapasitas maksimum
B. Menolak seluruh tambahan penumpang demi mematuhi batas 85% keterisian
C. Mengizinkan sebagian penumpang hingga mendekati batas optimal operasional
D. Menunda keberangkatan sampai seluruh penumpang tertampung
E. Mengalihkan seluruh tambahan penumpang ke jadwal berikutnya tanpa pengecualian

Jawaban : C
Pembahasan : Kapasitas optimal 85% menjadi acuan utama, bukan kapasitas maksimum. Penambahan terbatas hingga mendekati batas optimal menjaga keselamatan, efisiensi, dan tetap mempertimbangkan aspek pelayanan publik.

Soal No. 2
Pada kondisi jam sibuk, terjadi antrean panjang kendaraan di pelabuhan akibat keterlambatan satu armada kapal. Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa kapal pengganti memiliki waktu sandar lebih singkat tetapi kapasitas kendaraan lebih kecil. Sementara itu, tekanan dari pengguna jasa meningkat dan potensi kemacetan mulai meluas ke akses jalan umum. Dalam situasi ini, petugas operasional harus menentukan prioritas tindakan dengan mempertimbangkan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Keputusan manakah yang paling mencerminkan penalaran logis dan pengambilan keputusan yang efektif?

A. Menunggu kapal utama tanpa melakukan perubahan jadwal
B. Memaksakan seluruh kendaraan masuk ke kapal pengganti
C. Mengatur ulang prioritas muatan kendaraan tertentu berdasarkan urgensi
D. Menutup sementara akses kendaraan hingga kapal utama tiba
E. Membatalkan seluruh jadwal keberangkatan hari itu

Jawaban : C
Pembahasan : Pengaturan prioritas muatan berdasarkan urgensi (logistik vital, darurat) merupakan solusi rasional yang meminimalkan dampak kemacetan dan tetap menjaga kelancaran operasional.

Soal No. 3
Dalam sebuah pengumuman operasional tertulis disebutkan bahwa penumpang wajib berada di area tunggu minimal 30 menit sebelum keberangkatan dan mengikuti arahan petugas keselamatan. Namun, pada praktiknya sebagian penumpang datang terlambat dan meminta dispensasi dengan alasan tertentu. Petugas dihadapkan pada pilihan antara fleksibilitas pelayanan dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Jika instruksi tersebut dibuat untuk mengantisipasi potensi risiko di atas kapal, sikap paling tepat yang harus diambil petugas adalah?

A. Memberikan dispensasi kepada semua penumpang terlambat
B. Menolak seluruh penumpang tanpa pengecualian
C. Mengizinkan penumpang terlambat dengan surat pernyataan
D. Menegakkan instruksi dengan mempertimbangkan kondisi darurat tertentu
E. Mengabaikan instruksi demi menjaga kepuasan pelanggan

Jawaban : D
Pembahasan : Pemahaman instruksi kerja menuntut kepatuhan, namun tetap memberi ruang pada kondisi darurat dengan pertimbangan keselamatan sebagai prioritas utama.

Soal No. 4
Dalam laporan internal disebutkan bahwa seorang petugas menemukan ketidaksesuaian data manifest penumpang dengan kondisi aktual di lapangan. Jika hal tersebut dibiarkan, potensi risiko keselamatan dan pelanggaran regulasi dapat terjadi. Namun, pelaporan temuan ini berpotensi memperlambat proses keberangkatan dan menimbulkan tekanan dari rekan kerja. Berdasarkan nilai inti BUMN, tindakan manakah yang paling mencerminkan integritas dan tanggung jawab profesional?

A. Mengabaikan perbedaan data demi kelancaran jadwal
B. Menyesuaikan data secara sepihak tanpa pelaporan
C. Melaporkan temuan sesuai prosedur meskipun berisiko ditegur
D. Menunggu instruksi atasan tanpa melakukan apa pun
E. Menyampaikan temuan hanya kepada rekan kerja terdekat

Jawaban : C
Pembahasan : Integritas dan amanah menuntut keberanian melaporkan ketidaksesuaian demi keselamatan dan kepatuhan regulasi, meskipun berpotensi menimbulkan konsekuensi pribadi.

Soal No. 5
Saat terjadi cuaca buruk secara tiba-tiba, sebagian penumpang menunjukkan kepanikan dan mengajukan komplain karena keterlambatan keberangkatan. Di sisi lain, data cuaca dan panduan keselamatan menunjukkan bahwa pelayaran tetap dapat dilakukan dengan penyesuaian tertentu. Petugas layanan harus menenangkan penumpang sekaligus memastikan keselamatan tetap terjaga. Langkah manakah yang paling tepat sebagai solusi berbasis problem solving dalam situasi tersebut?

A. Tetap memberangkatkan kapal tanpa penjelasan
B. Membatalkan seluruh jadwal tanpa komunikasi
C. Memberikan penjelasan situasi, opsi, dan prosedur keselamatan kepada penumpang
D. Mengalihkan tanggung jawab kepada otoritas lain
E. Mengabaikan keluhan agar situasi tidak semakin ramai

Jawaban : C
Pembahasan : Problem solving efektif menuntut komunikasi jelas, empati, dan transparansi agar keputusan operasional dapat diterima tanpa mengorbankan keselamatan.

Soal No. 6
Dalam satu lintasan penyeberangan, waktu tempuh normal kapal adalah 95 menit dengan kecepatan rata-rata yang telah disesuaikan terhadap kondisi arus laut. Pada hari tertentu, terjadi peningkatan arus yang menyebabkan estimasi waktu tempuh bertambah 20%. Sementara itu, jadwal keberangkatan berikutnya hanya memiliki selisih waktu 30 menit dari jadwal saat ini. Jika keterlambatan berpotensi menumpuk antrean kendaraan di pelabuhan, keputusan operasional manakah yang paling rasional untuk menjaga stabilitas layanan?

A. Memaksakan kecepatan kapal agar sesuai jadwal awal
B. Membiarkan keterlambatan tanpa penyesuaian jadwal
C. Melakukan penyesuaian jadwal dan menginformasikannya kepada pengguna jasa
D. Membatalkan keberangkatan berikutnya tanpa koordinasi
E. Mengalihkan seluruh penumpang ke kapal lain yang belum siap

Jawaban : C
Pembahasan : Penyesuaian jadwal disertai komunikasi terbuka merupakan solusi yang menjaga keselamatan, kepercayaan pengguna jasa, dan keteraturan operasional.

Soal No. 7
Seorang petugas menemukan bahwa sebagian penumpang tidak memahami pengumuman keselamatan karena keterbatasan bahasa dan kondisi kebisingan di pelabuhan. Informasi keselamatan tersebut sebenarnya telah disampaikan sesuai prosedur standar. Namun, jika ketidakpahaman ini dibiarkan, risiko saat keadaan darurat dapat meningkat. Tindakan manakah yang paling tepat untuk memastikan efektivitas komunikasi keselamatan tanpa melanggar prosedur yang berlaku?

A. Menganggap pengumuman telah cukup karena sesuai standar
B. Menunda keberangkatan hingga seluruh penumpang memahami isi pengumuman
C. Menghapus pengumuman demi efisiensi waktu
D. Menyerahkan tanggung jawab kepada penumpang sepenuhnya
E. Mengulang informasi keselamatan dengan metode dan media yang lebih jelas

Jawaban : E
Pembahasan : Keselamatan menuntut pemahaman nyata, bukan sekadar pemenuhan prosedur formal, sehingga adaptasi metode komunikasi diperlukan.

Soal No. 8
Dalam proses pemuatan kendaraan, ditemukan selisih data antara manifest kendaraan dan jumlah aktual di lapangan. Tekanan waktu semakin meningkat karena kapal harus segera diberangkatkan untuk menjaga jadwal lintasan. Jika ketidaksesuaian data ini berpotensi melanggar regulasi keselamatan dan audit internal, langkah manakah yang paling mencerminkan kepatuhan dan profesionalisme kerja?

A. Mengabaikan selisih kecil demi efisiensi waktu
B. Menyesuaikan data secara informal setelah kapal berangkat
C. Menghentikan sementara proses untuk melakukan verifikasi ulang
D. Melanjutkan proses sambil menunggu laporan dari unit lain
E. Menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada petugas lapangan

Jawaban : C
Pembahasan : Kepatuhan regulasi dan keselamatan harus didahulukan dibanding kecepatan operasional, sehingga verifikasi ulang menjadi keputusan paling tepat.

Soal No. 9
Seorang penumpang menyampaikan keluhan keras karena merasa diperlakukan tidak adil saat proses antrean kendaraan. Dari sisi petugas, kebijakan antrean telah diterapkan sesuai prosedur dan mempertimbangkan faktor keselamatan serta kapasitas kapal. Namun, eskalasi emosi penumpang mulai memengaruhi kenyamanan pengguna jasa lainnya. Dalam konteks pelayanan publik, pendekatan manakah yang paling tepat untuk meredakan situasi tanpa mengorbankan aturan?

A. Menegur penumpang secara tegas di depan umum
B. Mengabaikan keluhan karena prosedur sudah benar
C. Mengubah aturan antrean agar penumpang puas
D. Memberikan penjelasan dengan empati dan bahasa yang mudah dipahami
E. Mengalihkan penumpang tersebut ke pihak keamanan

Jawaban : D
Pembahasan : Pendekatan empatik dan komunikatif mampu meredakan konflik sekaligus menjaga wibawa aturan dan kenyamanan publik.

Soal No. 10
Dalam kondisi darurat, salah satu alat keselamatan kapal terdeteksi tidak berada pada posisi standar meskipun masih dapat digunakan. Secara regulasi, alat tersebut seharusnya siap pakai tanpa penyesuaian tambahan. Waktu keberangkatan semakin dekat dan tekanan operasional meningkat. Keputusan manakah yang paling mencerminkan prinsip keselamatan pelayaran dan K3 maritim?

A. Tetap berangkat karena alat masih berfungsi
B. Menunda keberangkatan untuk memastikan alat sesuai standar
C. Menyembunyikan kondisi alat agar tidak menimbulkan kepanikan
D. Mengandalkan prosedur darurat alternatif tanpa perbaikan
E. Menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada awak kapal junior

Jawaban : B
Pembahasan : Keselamatan pelayaran menuntut kepatuhan penuh terhadap standar, bukan sekadar fungsi minimum, sehingga penundaan menjadi pilihan paling bertanggung jawab.

Soal No. 11
Pada suatu lintasan padat, rata-rata kapasitas kendaraan yang dapat diangkut kapal adalah 80 unit per keberangkatan. Data operasional menunjukkan bahwa tingkat keterisian optimal untuk menjaga stabilitas kapal adalah 90% dari kapasitas tersebut. Pada hari tertentu, tercatat 76 kendaraan siap muat, sementara masih ada antrean kendaraan darurat yang membutuhkan penyeberangan segera. Jika setiap tambahan 2 kendaraan di atas batas optimal meningkatkan risiko operasional secara signifikan, keputusan manakah yang paling tepat untuk diambil oleh petugas?

A. Memuat seluruh kendaraan karena belum melebihi kapasitas maksimal
B. Mengurangi muatan hingga tepat 90% dan menunda kendaraan lainnya
C. Mengizinkan tambahan kendaraan darurat tanpa batas
D. Membatalkan keberangkatan hingga antrean berkurang
E. Mengalihkan seluruh kendaraan ke lintasan lain

Jawaban : B
Pembahasan : Batas optimal ditetapkan untuk keselamatan dan stabilitas, sehingga pemuatan harus dibatasi meskipun masih tersedia ruang secara teoritis.

Soal No. 12
Seorang koordinator lapangan menerima dua laporan bersamaan, yaitu keterlambatan kapal akibat gangguan teknis ringan dan peningkatan jumlah penumpang pejalan kaki di ruang tunggu. Sumber daya petugas terbatas sehingga tidak semua permasalahan dapat ditangani secara bersamaan. Jika tujuan utama adalah menjaga keselamatan dan keteraturan layanan, prioritas tindakan manakah yang paling logis untuk diambil terlebih dahulu?

A. Menenangkan penumpang tanpa menangani gangguan teknis
B. Menangani gangguan teknis terlebih dahulu sebelum mengatur penumpang
C. Membagi petugas secara merata tanpa mempertimbangkan urgensi
D. Menunda seluruh aktivitas hingga situasi kondusif
E. Mengabaikan laporan teknis karena masih bersifat ringan

Jawaban : B
Pembahasan : Gangguan teknis berpotensi langsung memengaruhi keselamatan pelayaran, sehingga harus menjadi prioritas utama sebelum aspek lainnya.

Soal No. 13
Dalam evaluasi internal, ditemukan bahwa sebagian petugas cenderung mengambil jalan pintas dalam proses administrasi manifest demi mengejar ketepatan jadwal. Praktik ini memang mempercepat proses, tetapi meningkatkan risiko kesalahan data dan pelanggaran prosedur. Jika kondisi tersebut dibiarkan, dampak jangka panjang terhadap organisasi dapat menjadi serius. Tindakan manakah yang paling mencerminkan penerapan nilai profesionalisme dan tanggung jawab kerja?

A. Membiarkan praktik tersebut selama jadwal terpenuhi
B. Memberikan teguran informal tanpa perubahan sistem
C. Meninjau ulang prosedur dan menegakkan kepatuhan secara konsisten
D. Mengurangi beban kerja tanpa evaluasi proses
E. Mengalihkan tanggung jawab kepada unit lain

Jawaban : C
Pembahasan : Profesionalisme menuntut kepatuhan prosedur dan perbaikan sistemik, bukan sekadar pencapaian target jangka pendek.

Soal No. 14
Saat proses naik penumpang berlangsung, seorang petugas mendapati penumpang berkebutuhan khusus belum mendapatkan pendampingan yang memadai. Di sisi lain, antrean terus bertambah dan jadwal keberangkatan semakin mendekat. Jika petugas harus memilih tindakan yang mencerminkan pelayanan publik berkualitas, keputusan manakah yang paling tepat?

A. Mengabaikan penumpang tersebut demi ketepatan waktu
B. Menunda keberangkatan tanpa koordinasi
C. Memberikan pendampingan sesuai prosedur meskipun antrean bertambah
D. Menyerahkan penumpang tersebut kepada penumpang lain
E. Meminta penumpang tersebut menunggu jadwal berikutnya

Jawaban : C
Pembahasan : Pelayanan publik menuntut inklusivitas dan empati tanpa mengesampingkan standar keselamatan dan prosedur.

Soal No. 15
Dalam kondisi cuaca mulai memburuk, sebagian awak kapal menyarankan penundaan keberangkatan sebagai langkah pencegahan. Namun, data cuaca menunjukkan kondisi masih berada dalam ambang aman dengan potensi perubahan cepat. Jika keputusan yang diambil harus mempertimbangkan keselamatan, kepatuhan regulasi, dan keberlangsungan layanan, langkah manakah yang paling rasional?

A. Tetap berangkat tanpa mempertimbangkan masukan awak
B. Menunda keberangkatan sambil melakukan pemantauan intensif
C. Membatalkan seluruh jadwal hari itu
D. Mengabaikan data cuaca karena belum darurat
E. Menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada tekanan penumpang

Jawaban : B
Pembahasan : Pemantauan intensif disertai penundaan terbatas mencerminkan kehati-hatian dan pengambilan keputusan berbasis data.

Soal No. 16
Pada satu lintasan penyeberangan, data menunjukkan rata-rata keterisian penumpang mencapai 92% saat akhir pekan. Namun, laporan keselamatan merekomendasikan batas ideal keterisian maksimal 88% untuk menjaga kenyamanan dan evakuasi darurat. Pada hari tertentu, tekanan dari penumpang meningkat karena keterbatasan jadwal tambahan. Petugas operasional dihadapkan pada dilema antara kepuasan pelanggan dan standar keselamatan. Keputusan manakah yang paling tepat untuk diambil dalam situasi tersebut?

A. Mengikuti permintaan penumpang selama kapasitas maksimal belum terlampaui
B. Menambah muatan penumpang dengan asumsi kondisi darurat jarang terjadi
C. Membatasi muatan sesuai rekomendasi keselamatan meskipun ada keluhan
D. Menunda keberangkatan hingga seluruh penumpang terangkut
E. Mengabaikan rekomendasi keselamatan demi citra pelayanan

Jawaban : C
Pembahasan : Rekomendasi keselamatan bersifat preventif dan wajib diprioritaskan meskipun berpotensi menimbulkan ketidakpuasan jangka pendek.

Soal No. 17
Seorang petugas loket menemukan bahwa sistem tiket daring mengalami gangguan ringan sehingga data transaksi tidak langsung tersinkronisasi. Di sisi lain, antrean penumpang terus bertambah dan berpotensi mengganggu jadwal keberangkatan. Jika transaksi manual dilakukan, terdapat risiko kesalahan pencatatan. Dalam konteks kepatuhan prosedur dan efisiensi layanan, tindakan manakah yang paling rasional?

A. Menghentikan seluruh penjualan tiket hingga sistem normal
B. Melanjutkan transaksi manual tanpa pencatatan lanjutan
C. Menggunakan prosedur cadangan resmi sambil mencatat secara terkontrol
D. Membiarkan penumpang naik tanpa tiket sementara
E. Mengalihkan seluruh penumpang ke jadwal berikutnya

Jawaban : C
Pembahasan : Prosedur cadangan dirancang untuk kondisi gangguan agar layanan tetap berjalan tanpa mengorbankan akurasi dan akuntabilitas.

Soal No. 18
Dalam proses evaluasi kinerja, ditemukan bahwa keterlambatan jadwal sering terjadi akibat koordinasi antarunit yang kurang optimal. Masing-masing unit sebenarnya telah menjalankan tugas sesuai SOP masing-masing. Namun, tidak ada mekanisme komunikasi lintas unit yang efektif. Jika tujuan utama adalah meningkatkan kinerja operasional secara berkelanjutan, langkah manakah yang paling tepat?

A. Memperkuat koordinasi lintas unit melalui mekanisme komunikasi terstruktur
B. Menambah jam kerja seluruh petugas
C. Menyalahkan unit dengan kinerja terendah
D. Mengurangi standar operasional agar lebih fleksibel
E. Mengabaikan masalah karena masih dalam batas toleransi

Jawaban : A
Pembahasan : Permasalahan sistemik membutuhkan solusi sistemik melalui koordinasi dan komunikasi yang terintegrasi.

Soal No. 19
Pada saat proses bongkar muat kendaraan, seorang petugas menemukan bahwa beberapa kendaraan tidak sesuai dengan klasifikasi tiket yang dibeli. Jika dibiarkan, hal ini dapat memengaruhi distribusi beban kapal dan melanggar ketentuan tarif. Namun, pemeriksaan ulang berpotensi memperlambat keberangkatan. Keputusan manakah yang paling mencerminkan kepatuhan dan tanggung jawab operasional?

A. Mengabaikan ketidaksesuaian demi ketepatan waktu
B. Menyesuaikan klasifikasi tanpa konfirmasi
C. Melakukan pemeriksaan ulang meskipun membutuhkan waktu tambahan
D. Membiarkan kendaraan naik dan mencatat setelah berlayar
E. Menyerahkan keputusan kepada pemilik kendaraan

Jawaban : C
Pembahasan : Ketepatan klasifikasi berdampak langsung pada keselamatan dan kepatuhan, sehingga verifikasi ulang wajib dilakukan.

Soal No. 20
Dalam situasi kepadatan tinggi, seorang penumpang bersikeras meminta prioritas naik kapal tanpa memenuhi kriteria yang ditetapkan. Penumpang tersebut beralasan memiliki kepentingan pribadi yang mendesak. Jika permintaan tersebut dikabulkan, potensi kecemburuan dan konflik antarpenumpang dapat terjadi. Sikap manakah yang paling tepat diambil petugas layanan?

A. Mengabulkan permintaan demi menghindari konflik langsung
B. Menolak dengan sikap kaku tanpa penjelasan
C. Mengabaikan penumpang tersebut
D. Mengalihkan penumpang ke jalur khusus tanpa dasar
E. Menjelaskan kebijakan secara persuasif dan konsisten

Jawaban : E
Pembahasan : Konsistensi aturan yang disertai komunikasi persuasif menjaga keadilan dan ketertiban layanan publik.

Tingkatkan Peluang Lolos Seleksi ASDP Indonesia Ferry dengan Latihan yang Tepat!

Soal Tes Rekrutmen ASDP Indonesia Ferry

Mengikuti tahapan tes tertulis PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) membutuhkan strategi belajar yang terencana dan relevan. Melalui latihan soal tes rekrutmen ASDP Indonesia Ferry yang disusun sesuai kisi-kisi dan standar seleksi BUMN di fhci.or.id, Anda dapat membiasakan diri dengan karakter soal, mengasah kemampuan logika, serta memahami teknik penyelesaian soal secara efisien melalui pembahasan yang terstruktur dan mudah dipahami.

Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Facebook

Dapatkan Akses Ratusan Soal BUMN berbasis CBT dari Tim FHCI

Butuh Bantuan?